MINDYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
gue emosi noh ama temen sekelompok gueeeeeeeeeeeeeeeee
ini padahal tugas UAS za. loe tau kan UAS itu apa? kalo gag tau tanya gue lain kali. soale gue ini gi emosi tingkat tinggi. so. jangan koreksi apapun kata gue.
udah
end za
serkian.
Sabtu, 15 Desember 2012
Rabu, 12 Desember 2012
Psikologi Remaja
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Remaja
sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk
golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk
ke golongan orang dewasa. Remaja ada di antara anak dan orang dewasa. Oleh
karena itu, remaja seringkali dikenal dengan fase mencari jati diri atau fase
topan dan badai. Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara
maksimal fungsi maupun psikisnya (Monks dkk., 1989). Namun, yang perlu ditekankan
di sini adalah bahwa fase remaja merupakan fase perkembangan yang tengah berada
pada masa amat potensial, baik dilihat dari aspek religi atau keagamaannya,
emosi, sosial, kognitif, bahasa, maupun psikomotorik atau fisiknya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan kereligiusan remaja?
1. Bagaimana perkembangan kereligiusan remaja?
2.
Bagaimana perkembangan emosional remaja?
3.
Bagaimana perkembangan sosial remaja?
4.
Bagaimana perkembangan kognitif remaja?
5.
Bagaimana perkembangan bahasa remaja?
6.
Bagaimana perkembangan psikomotorik remaja?
C. Tujuan
1.
Mengetahui perkembangan kereligiusan pada masa
remaja.
2.
Mengetahui perkembangan emosional pada masa
remaja.
3.
Mengetahui perkembangan sosial pada masa remaja.
4.
Mengetahui perkembangan kognitif pada masa
remaja.
5.
Mengetahui perkembangan bahasa pada masa remaja.
6.
Mengetahui perkembangan psikomotorik pada masa
remaja.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Kereligiusan Remaja
Dalam pandangan
Kholberg, sebagaimana juga pandangan Jean Piaged salah seorang yang sangat
dikaguminya, bahwa berdasarkan penelitiannya tampak bahwa anak-anak dan remaja
menafsirkan segala tindakan dan perilakunya sesuai dengan struktur mental
mereka sendiri dan menilai hubungan sosial dan perbuatan tertentu sebagai adil
atau tidak adil, baik atau buruk serta seiring dengan tingkat perkembangan atau
struktur moral mereka masing-masing. Karakteristik yang menonjol dalam
perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan
kognisi yang mulai mencapai tahapan berfikir operasional formal, yaitu mulai
berfikir abstrak dan mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotetis,
maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalahan tidak lagi hanya terkait pada
waktu tempat dan situasi. Perkembangan pemikiran moral remaja dicirikan dengan
mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan dan pranata yang
ada karena dianggapnya sebagai suatu yang bernilai walau belum mampu
mempertanggungjawabkannya secara pribadi (Monks, 1989). Tingkat perkembangan
fisik dan psikis yang dicapai remaja berpengaruh pada perubahan sikap dan
perilakunya (M. Ali & M. Asrori. 2005).
1. Kesadaran Beragama Remaja
Bagi
remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan,
sebagaimana dijelaskan oleh Adams & Gullotta (1983), agama memberikan
sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah
lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan
mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia ini. Agama memberikan
perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi
dirinya. Dibandingkan dengan masa awal anak-anak misalnya, keyakinan agama
remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kalau pada masa awal
anak-anak ketika mereka baru memiliki kemampuan berpikir simbolik. Tuhan
dibayangkan sebagai person yang
berada di awan, maka pada masa remaja mereka mungkin berusaha mencari sebuah
konsep yang lebih mendalam tentang Tuhan dan eksistensi. Perkembangan pemahaman
remaja terhadap keyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan
kognitifnya.
Oleh
karena itu, meskipun pada masa awal anak-anak, ia telah diajarkan agama oleh
orang tua mereka, namun karena pada masa remaja mereka mengalami kemajuan dalam
perkembangan kognitif, mereka mungkin mempertanyakan tentang kebenaran
keyakinan agama mereka sendiri. Sehubungan dengan pengaruh perkembangan
kognitif terhadap perkembangan agama selama masa remaja ini.
Dalam
suatu studi yang dilakukan Goldman (1962) tentang perkembangan pemahaman agama
anak-anak dan remaja dengan latar belakang teori perkembangan kognitif Piaget,
ditemukan bahwa perkembangan pemahaman agama remaja berada pada tahap 3, yaitu formal operational religious thought, di
mana remaja memperlihatkann pemahaman agama yang lebih abstrak dan hipotesis.
Peneliti lain juga menemukan perubahan perkembangan yang sama, pada anak-anak
dan remaja. Oser & Gmunder (1991) misalnya, menemukan bahwa remaja usia
sekitar 17 atau 18 tahun makin meningkat ulasannya tentang kebebasan,
pemahaman, dan pengharapan konsep-konsep abstrak ketika membuat pertimbangan
tentang agama.
Para
ahli umumnya sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan
keagamaan itu dapat di bagi dalam dua tahapan yang secara kualitatif
menunjukkan karakteristik yang berbeda. Adapun penghayatan keagamaan remaja
adalah sebagai berikut:
a. Masa Remaja Awal
Masa ini dapat dibagi ke dalam tiga sub tahapan
sebagai berikut:
1)
Sikap negative
(meskipun tidak selalu terang-terangan) disebabkan alam pikirannya yang kritis
melihat kenyataan orang-orang beragama secara hipocrit (pura-pura) yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu
selaras dengan perbuatannya.
2)
Pandangan dalam hal ke-Tuhanannya menjadi kacau
karena ia banyak membaca atau mendengar berbagai konsep dan pemikiran atau
aliran paham banyak yang tidak cocok atau bertentangan satu sama lain.
3)
Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptic (diliputi kewas-wasan) sehingga
banyak yang enggan melakukan berbagai kegiatan ritual yang selama ini
dilakukannya dengan kepatuhan.
b. Masa Remaja Akhir
Masa ini tandai antara lain oleh hal-hal berikut ini:
1)
Sikap kembali, pada umumnya, kearah positif
dengan tercapainya kedewasaan intelektual, bahkan agama dapat menjadi pegangan
hidupnya menjelang dewasa.
2)
Pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkannya
dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya.
3)
Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah
melalui proses identifikasi dan merindu puja ia dapat membedakan antara agama
sebagai doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya, yang baik (shalih) dari
yang tidak. Ia juga memahami bahwa terdapat berbagai aliran paham dan jenis
keagamaan yang penuh toleransi seyogyanya diterima sebagai kenyataan yang hidup
didunia ini.
Ada
beberapa ciri-ciri kesadaran beragama yang menonjol pada masa remaja.
Diantaranya adalah:
a. Pengalaman Ke-Tuhanannya Makin Bersifat
Individual
Remaja makin mengenal dirinya. Ia menemukan “diri”nya bukan
hanya sekedar badan jasmaniah, tetapi merupakan suatu kehidupan psikologi
rohaniah berupa “pribadi”. Remaja bersifat kritis terhadap dirinya sendiri dan
segala sesuatu yang menjadi milik pribadinya. Ia menemukan pribadinya terpisah
dari pribadi-pribadi lain dan terpisah pula dari alam sekitarnya. Pemikiran,
perasaan, keinginan, cita-cita dan kehidupan psikologis rohaniah lainnya adalah
milik pribadinya. Penghayatan penemuan diri pribadi ini dinamakan
“individuasi”, yaitu adanya garis pemisah yang tegas antara diri sendiri dan
bukan diri sendiri, antara aku dan bukan aku, antara subjek dan dunia sekitar.
Penemuan diri pribadinya sebagai sesuatu yang berdiri
sendiri menimbulkan rasa kesepian dan rasa terpisah dari pribadinya. Dalam rasa
kesendiriannya, remaja memerlukan kawan setia atau pribadi yang mampu menampung
keluhan-keluhannya, melindungi, membimbing, mendorong dan memberi petunjuk
jalan yang dapat mengembangkan kepribadiannya. Pribadi yang demikian sempurna
itu sukar ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pencariannya itu, remaja
mungkin menemukan tokoh ideal, akan tetapi tokoh ideal ini pun tidak sempurna.
Akhirnya remaja mencari dunia ideal, dunia filosofis dan cita-cita. Ia berusaha
mencari hakikat, makna dan tujuan hidupnya. Remaja dapat menemukan berbagai
macam pandangan, ide, dan filsafat hidup yang mungkin bertentangan dengan
keimanan yang telh menjadi bagian pribadinya. Hal ini dapat menimbulkan kebimbangan
dan konflik batin yang merupakan suatu penderitaan. Bagi remaja yang sensitif
penderitaan ini dirasakan lebih akut dan lebih mendalam. Secara formal dapat
menambah kedalaman alam perasaan, akan tetapi sekaligus menjadi bertambah
labil. Ia sangat menderita dalam keadaan demikian, sehingga pada umumnya
suasana jiwa dalam keadaan murung dan risau.
b. Keimanannya Semakin Menuju Realitas
Sebenarnya
Terarahnya perhatian ke dunia dalam
menimbulkan kecenderungan yang besar untuk merenungkan, mengkritik dan menilai
diri sendiri. Instropeksi diri ini dapat menimbulkan kesibukan untuk
bertanya-tanya pada orang lain tentang dirinya, tentang keimanan dan kehidupan
agamanya. Remaja mulai mengerti bahwa kehidupan ini tidak hanya seperti yang
dijumpainya secara konkret, tetapi mempunyai makna yang lebih dalam. Gambaran
tentang dunia pada masa remaja menjadi lebih luas dan kaya, karena tidak saja
meliputi realitas yang fisik, tetapi mulai melebar ke dunia dalam yang psikis
dan rohaniah.
c. Peribadahan Mulai Disertai Penghayatan yang
Tulus
Agama adalah pengalaman dan
penghayatan dunia-dalam seseorang tentang ke-Tuhanan disertai keimanan dan
peribadahan. Pengalaman dan penghayatan itu merangsang dan mendorong individu
terhadap hakikat pengalaman kesucian, penghayatan “kehadiran” Tuhan atau
sesuatu yang dirasakannya supernatual dan di luar batas jangkauan dan kekuatan
manusia. Pengalaman ini bersifat subjektif yang sukar diterangkan kepada orang
lain. Keimanan akan timbul menyertai penghayatan ke-Tuhanan, sedangkan peribadahan,
yakni sikap dan tingkah laku keagamaan merupakan efek dari adanya penghayatan
keimanan.
Beribadah berarti melaksanakan
semua perintah Tuhan sesuai dengan kemampuan dan meninggalkan seluruh
larangan-Nya dengan niat yang ikhlas. Unsur niat atau kesengajaan merupakan
salah satu penentu berpahala tidaknya perbuatan dan tingkah laku sehari-hari.
Tingkah laku keagamaan yang tidak disertai niat atau tanpa kesadaran beragama
bukanlah ibadah. Sebaliknya, tingkah laku sosial dan pekerjaan sehari-hari
apabila disertai niat karena Tuhan adalah termasuk ibadah.
2.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Kesadaran Beragama
Keyakinan
dan keimanan kepada Tuhan dan aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari
merupakan hasil dari internalisasi, yaitu proses pengenalan, pemahaman, dan kesadaran
seseorang terhadap agama. Proses ini akan berbentuk dengan dipengaruhi oleh dua
faktor, yaitu:
a. Faktor Internal
Menurut fitrahnya, manusia adalah
makhluk beragama (homoreligius) atau
memiliki potensi untuk beragama, mempunyai keimanan kepada Tuhan, atau percaya
kepada suatu dzat yang mempunyai kekuatan yang menguasai dirinya dan alam
tempat dia hidup (Syamsu, 2002: 38). Dalam perkembangannya, fitrah beragama ini
ada yang berjalan secara alamiah dan ada yang mendapat bimbingan dari agama
sehingga fitrahnya itu berkembang secara benar sesuai dengan tuntutan agama.
b. Faktor Eksternal
Fitrah kesadaran beragama merupakan
potensi yang mempunyai kecenderungan untuk berkembang. Namun, perkembangan
kesadaran beragama juga akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang memberikan
bimbingan, pengajaran, dan pelatihan yang memungkinkan kesadaran beragama itu
berkembang dengan baik. Faktor lingkungan tersebut antara lain yaitu:
1) Lingkungan Keluarga
Hurlock berpendapat bahwa keluarga
merupakan Training Center bagi
penanaman nilai-nilai (Yusuf, 2007: 42). Pendapat ini menunjukkan bahwa
keluarga mempunyai peran sebagai pusat latihan atau pembelajaran anak untuk
memperoleh pemahaman tentang nilai-nilai agama dan kemampuannya dalam
mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
2) Lingkungan Sekolah
Dalam mengembangkan kesadaran beragama siswa peranan
sangat penting, peranan ini terkait pengembangan pemahaman, pembiasaan
mengimplementasikan ajaran-ajaran agama, serta sikap apresiatif terhadap ajaran
atau hukum-hukum agama.
3) Lingkungan Masyarakat
Dalam kehidupan bermasyarakat,
remaja akan cenderung berinteraksi dengan teman sebayanya. Apabila temannya
memiliki kepribadian yang baik maka remaja tersebut akan cenderung mengikuti
kebaikannya, dan sebaliknya ketika teman-teman sebayanya berkepribadian tidak
baik, maka iapun akan memiliki kecenderungan yang sama. Hal ini akan terjadi
ketika anak tersebut kurang mendapat bimbingan agama dari lingkungan
keluarganya (terutama orang tua).
Mengenai pengaruh teman sebaya, Hurlock mengemukakan bahwa
“standar atau aturan-aturan geng (kelompok bermain) memberikan pengaruh kepada
pandangan moral dan tingkah laku para anggotanya” (Yusuf, 2004: 52). Corak
perilaku anak merupakan cermin dari perilaku warga masyarakat pada umumnya.
Oleh karena itu, kualitas perkembangan agama remaja akan sangat bergantung
kepada kualitas perilaku warga masyarakat itu sendiri.
3.
Sikap
Remaja dalam Beragama
Terdapat empat
sikap remaja dalam beragama, yaitu:
a. Percaya Ikut- Ikutan
Percaya ikut-ikutan ini biasanya dihasilkan
oleh didikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan
lingkungannya. Namun demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal
(usia 13-16 tahun). Setelah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih
kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan psikisnya.
b. Percaya dengan Kesadaran
Semangat keagamaan dimulai dengan melihat
kembali tentang masalah-masalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil.
Mereka ingin menjalankan agama sebagai suatu lapangan yang baru untuk
membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut- ikutan
saja. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18
tahun. Semangat agama tersebut mempunyai dua bentuk:
1) Dalam Bentuk Positif
Semangat agama yang positif, yaitu
berusaha melihat agama dengan pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal-
hal yang tidak masuk akal. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari
bid’ah dan khurafat, dari kekakuan dan kekolotan.
2) Dalam Bentuk Negative
Semangat keagamaan dalam bentuk
kedua ini akan menjadi bentuk kegiatan yang berbentuk khurafi, yaitu
kecenderungan remaja untuk mengambil pengaruh dari luar ke dalam masalah-
masalah keagamaan, seperti bid’ah, khurafat dan kepercayaan- kepercayaan
lainnya.
c. Percaya, tetapi Agak Ragu-Ragu
Keraguan kepercayaan remaja
terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua:
1)
Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan
terjadinya proses perubahan dalam pribadinya. Hal ini merupakan kewajaran.
2)
Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas
kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya, atau dengan pengetahuan
yang dimiliki.
d. Tidak Percaya atau Cenderung Ateis
Perkembangan ke arah tidak percaya
pada tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari masa kecil. Apabila
seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua, maka ia
telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, selanjutnya
terhadap kekuasaan apa pun, termasuk kekuasaan Tuhan.
4.
Upaya
Pengembangan Kesadaran Beragama
Upaya
pengembangan kesadaran beragama siswa dapat dilakukan diantaranya dengan
program bimbingan dan konseling yang dilaksanakan oleh semua stake holder pendidikan di sekolah.
B. Perkembangan Emosional Remaja
Emosi
adalah suatu respon terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan
fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan
untuk meletus. Respons demikian terjadi baik terhadap perangsang-perangsang
eksternal maupun internal (Soegarda Poerbakawatja, 1982). Dengan definisi ini
semakin jelas perbedaan antara emosi dengan perasaan, bahkan disini tampak
jelas bahwa perasaan termasuk ke dalam
emosi atau menjadi bagian dari emosi.
1. Bentuk-Bentuk
Emosi Remaja
Ada
juga jenis bentuk emosi, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif
merupakan reaksi kepuasan dan emosi negatif merupakan kepuasan ketidakpuasan
terhadap kebutuhan yang dirasakan oleh remaja. Adapun bentuk-bentuk emosi
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Emosi
Marah
Emosi
ini sering terjadi, penyebabnya bisa karena manusia sering dipermalukan, dihina,
di pojokkan dengan dan dihadapan teman-teman sebaya lainnya, dan bentuk emosi
remaja ini bisa di tonjolkan melalui, berkelahi, dengan mencaci-maki, ataupun
dengan ungkapan verbal lainnya. Remaja yang sudah cukup matang menunjukkan
rasa marahnya tidak lagi dengan berkelahi seperti pada masa kakak-kanak
sebelumnya. Kadang-kadang juga remaja melakukan tindakan kekerasan dalam
melampiaskan emosi marah, meskipun mereka berusaha menekan keinginan untuk
bertingkah laku seperti itu. Pada dasarnya remaja cenderung mengganti emosi
kekanak-kanakan mereka dengan cara yang lebih sopan.
b. Emosi
Takut
Ketakutan yang dialami selama masa remaja dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1)
Ketakutan terhadap masalah atas sikap orang tua
yang tidak adil dan cenderung menolak di dalam keluarga.
2)
Ketakutan terhadap masalah mendapatkan status
baik dalam kelompok sebaya maupun dalam keluarga.
3)
Ketakutan terhadap masalah penyesuaian
pendidikan, atau pilihan pendidikan yang sesaui dengan kemampuan dan cita-cita.
4)
Ketakutan terhadap masalah pilihan jabatan yang
sesuai dengan kemampuan dan keinginan.
5)
Ketakutan terhadap masalah-masalah seks.
6)
Ketakutan terhadap ancaman keberadaan diri.
Pada saat akhir masa remaja dan memasuki perkembangan
dewasa awal, ketakutan atau kecemasan yang baru muncul adalah menyangkut
masalah keuangan, pekerjaan, kemunduran usaha, pendirian/pandangan politik,
kepercayaan/agama, perkawinan dan keluarga. Remaja yang sudah matang akan
berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang menimbulkan rasa takutnya
c. Emosi
Cinta
Pada masa remaja arah dan objek cinta itu berubah terhadap
teman sebaya yang berlawanan jenis. Jenis
emosi ini sering sekali terjadi pada remaja, remaja selalu emosi karena
permasalahan cinta ini. Rasa cinta seseorang itu sudah mulai tumbuh dari kecil,
sejak masa praremaja (pubertas) kepada lawan jenisnya, misalnya anak perempuan
lebih dekat dengan ayahnya.
Remaja
yang akan mengalami emosi cinta ini jika perkembangannya normal remaja tersebut
akan mengarahkan rasa cintanya dengan baik dan akan menimbulkan nilai positif
kepadanya, akan tetapi jika emosi cinta tesebut akan menimbulkan nilai negatif
bagi dirinya maka akan mengganggu dirinya dan perkembangan hidupnya, bahkan
akan bisa mengarahkan kepada perbuatan-perbuatan yang yang menyimpang. Remaja
wanita yang mengalami perkembangan perasaan cinta yang normal adalah jika
remaja mengarahkan rasa cintanya kepada pemuda sesama remaja. Demikian juga
dengan remaja pria yang mempunyai cinta yang normal mengarahkan cintanya pada
seorang gadis.
Pada akhir masa remaja, mereka memilih satu lawan jenis
yang paling disayangi. Perkembangan yang normal mengenai emosi cinta dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1)
Objek cinta mula-mula adalah orang dewasa yang
sejenis atau berbeda jenis.
2)
Kemudian objek cinta beralih pada teman sebaya
yang sama jenis kelamin, yaitu pada masa pra remaja.
3)
Pada akhirnya remaja menjadikan teman sebaya
sebagai obyek cintanya.
2. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
Perkembangan emosi seseorang
pada umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah lakunya. Perkembangan emosi
remaja juga demikian halnya. Kualitas atau fluktuasi gejala yang tampak dalam
tingkah laku itu sangat tergantung pada tingkat flukutasi emosi yang ada pada
individu tersebut. Dan dalam kehidupan sehari-hari sering kita lihat beberapa
tingkah laku emosional. Maka dari itu M. Ali dan M. Asrori (2005) mengungkapkan
sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah sebagai
berikut:
a. Perubahan Jasmani
Perubahan jasmani yang ditunjukan dengan adanya pertumbuhan
yang sangat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaaan ini hanya terbatas
pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi tidak
seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat yang terduga pada
perkembangan emosi remaja. Tidak setiap remaja dapat menerima perubahan kondisi
tubuh seperti itu, lebih-lebih jika perubahan tersebut menyakut perubahan kulit
yang kasar dan penuh jerawat.
b. Perubahan Pola Interaksi
dengan Orang Tua
Pola asuh orang tua terhadap anak, termasuk remaja, sangat
bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh
dirinya sendiri saja sehingga bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak
acuh, tetapi ada juga dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh orang tua
seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja.
Contohnya, pemberontakan terhadap orang tua menunjukan bahwa mereka berada
dalam konflik dan ingin melepaskan diri dari pengawasan orang tua. Mereka tidak
merasa puas kalau tidak pernah sama sekali menunjukkan perlawananan orang tua
karena ingin mennunjukkan seberapa jauh dirinya telah berhasil menjadi orang
yang lebih dewasa. Keadaan semacam ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan
emosi remaja.
c. Perubahan Interaksi
dengan Teman Sebaya
Remaja sering kali membangun interaksi dengan teman
sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama
dengan membentuk semacam geng. Interaksi anggotanya dalam suatu kelompok geng
biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat
tinggi. Usahakan dapat menghindarkan pembentukan kelompok secara geng itu
ketika sudah memasuki masa remaja tengah dan remaja dewasa akhir. Faktor yang
sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan
lawan jenis. Pada masa remaja tengah, biasanya remaja benar-benar mulai jatuh
cinta dengan teman lawan jenisnya. Gejala ini sebenarnya sehat bagi remaja, tetapi
tidak jarang juga menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada remaja jika
tidak diikuti dengan bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa.
Oleh sebab itu, tidak jarang orang tua justru merasa tidak gembira atau bahkan
cemas ketika anak remajanya jatuh cinta.
d. Perubahan Pandangan
luar
Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat
menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut:
1)
Sikap
dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten.
Kadang-kadang
mereka dianggap sudah dewasa, tetapi mereka tidak mendapat kebebasan penuh atau
peran yang wajar sebagaimana orang dewasa. Seringkali mereka masih dianggap
anak kecil sehingga menimbulkan kejengkelan pada diri remaja.
2)
Dunia
luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki
dan perempuan.
Kalau
remaja laki-laki memiliki banyak teman perempuan, mereka mendapat predikat
populer dan mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, apabila remaja putri
mempunyai banyak teman laki-laki sering dianggap tidak baik atau bahkan
mendapat predikat yang kurang baik.
3)
Seringkali
kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab.
Yaitu
dengan cara melibatkan remaja tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan yang merusak
dirinya dan melanggar nilai-nilai moral. Perlakuan dunia luar semacam ini akan
sngat merugikan perkembangan emosional remaja.
e. Perubahan Interaksi
dengan Sekolah
Pada
masa anak-anak, sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan tempat
pendidikan yang diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sngat
penting dalam kehidupan mereka karena
selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta
didiknya. Posisi guru semacam ini sangat strategis apabila digunakan untuk
pengembangan emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif. Namun demikian, tidak jarang
terjadi bahwa figur sebagai tokoh tersebut, guru memberikan ancaman-ancaman
tertentu kepada para pesertanya. Sebenarnya hal ini dapat menambah permusuhan
saja dari anak-anak setelah anak-anak tersebut menginjak masa remaja. Cara-cara
seperti ini akan memberikan stimulus negatif bagi perkembangan emosi anak.
Dalam
pembaharuan ini, para remaja sering terbentur pada nilai-nilai yang tidak dapat
mereka terima atau yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai yang
menarik bagi mereka. Pada saat itu, timbullah idealisme untuk mengubah
lingkungannya. Sebab, idealisme yang dikecewakan dapat berkembang menjadi
tingkah laku emosional yang destruktif. Sebaliknya, kalau remaja berhasil
diberikan penyaluran yang positif untuk mengembangkan idealismeya akan sangat
bermanfaat bagi perkembangan mereka sampai memasuki masa dewasa.
Menurut
Hurlock (1980) & Luella Cole (1963), ada beberapa penyebab yang akan menimbulkan emosi negatif
pada remaja adalah sebagai berikut:
a.
Memperlakukan
remaja sebagai anak kecil, sehingga mereka merasa diremehkan dan tidak dianggap
mempunyai harga diri.
b.
Dihalangi
membina keakraban dengan lawan jenisnya, baik dari orang tuanya maupun dari
lingkungan sebayanya.
c.
Terlalu
sering disalahkan dan dikritik, sehingga dianggap tidak ada kebenaran dan
kebaikan yang ada pada diri remaja itu sendiri.
d.
Merasa
diperlakukan secara tidak adil, merasa kebutuhan mereka tidak dipenuhi oleh
orang tua dan diperlakukan secara otoriter.
e.
Merasa disikapi secara otoriter, seperti
dituntut patuh, banyak dicela, dihukum dan dihina.
3. Gejala
Gangguan Emosional pada Remaja
a.
Depresi atau sedih yang mendalam, biasanya
akibat kesedihan yang tidak mendapat tanggapan dari orang lain atau tanggapan
yang diterimanya justru meningkatkan kesedihan yang ada. Depresi dapat terjadi
akibat kehilangan orang yang sangat dicintai atau kegagalan yang bertubi-tubi
dialami.
b.
Mudah pingsan, karena terlalu sensitif atau
perasa, khususnya terhadap sesuatu yang menakutkan atau menyedihkan.
c.
Mudah tersinggung dan sensitif terhadap orang
lain. Misalnya sesuatu yang dilihat, didengar atau direspon orang lain,
ditanggapi secara impulsif.
d.
Sering cemas, karena terlalu banyak memikirkan
bahaya atau kegagalan.
e.
Sering Ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu atau
bertindak ragu-ragu karena terlalu banyak pertimbangan.
4. Ciri-Ciri Kematangan dan Ketidakmatangan
Emosi Remaja
Remaja
yang sudah mencapai kematangan emosi dapat dilihat dari ciri- ciri tingkah
lakunya sebagai berikut:
a.
Mandiri dalam artian emosional yaitu bertanggung
jawab atas diri sendiri dan orang lain.
b.
Mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa
adanya. Mereka tidak cenderung menyalahkan diri sendiri ataupun menyalahkan
orang lain atas kegagalan yang dialaminya.
c.
Mampu mengendalikan emosi-emosi negatif,
sehingga pemunculannya tidak impulsif.
Remaja yang sudah tidak matang emosinya dapat dilihat dari
ciri-ciri tingkah lakunya sebagai berikut:
a.
Cenderung melihat sisi negatif dari orang lain. Impulsif,
kurang mampu mengendalikan emosi dan mudah emosional.
b.
Kurang mampu menerima diri sendiri dan orang
lain apa adanya.
c.
Kurang mampu memahami orang lain dan cenderung
untuk selalu minta dipahami oleh orang lain.
d.
Tidak mau mengakui kesalahan yang diperbuat dan
cenderung menyembunyikannya atau lebih memilih sikap mekanisme pertahanan diri.
5.
Cara-Cara
Meredam Emosi Negatif Remaja
Emosi
negatif pada dasarnya dapat diredam sehingga tidak menimbulkan efek negatif.
Beberapa cara untuk meredamnya itu adalah:
a.
Berpikir positif dalam arti mencoba melihat
sesuatu peristiwa atau kejadian dari sisi positifnya.
b.
Mencoba belajar memahami karakteristik orang
lain. Memahami bahwa orang lain memang berbeda dan tidak dapat memaksakan orang
lain berbuat sesuai dengan keinginan diri sendiri.
c.
Mencoba menghargai pendapat dan kelebihan orang
lain. Mereka mendengarkan apa yang dikemukakan orang lain dan mengakui
kelebihan orang lain.
d.
Introspeksi dan mencoba melihat apabila kejadian
yang sama terjadi pada diri sendiri, mereka dapat merasakannya.
e.
Bersabar dan menjadi pemaaf. Mengahadapi sesuatu
dengan sabar dan maaf.
f.
Mengalihkan perhatian pada objek yang memicu
munculnya emosi.
6. Upaya
Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya
Intervensi
pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat mengembangkan kecerdasan
emosional, salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan intervensi yang
dikemukakan oleh W.T. Grant Consortium tentang “Unsur-Unsur Aktif Program
Pencegahan”, yaitu sebagai berikut:
a. Pengembangan
Keterampilan
Cara
yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan emosional individu adalah
sebagai berikut:
1)
Mengidentifikasikan
dan memberi nama dan label perasaan.
2)
Mengungkapkan
perasaan.
3)
Menilai
intensitas perasaan.
4)
Mengelola
perasaan.
5)
Menunda
perasaan.
6)
Mengendalikan
dorongan hati.
7)
Mengurangi
stres, dan
8)
Memahani
perbedaan antara perasaan dan tindakan.
b.
Pengembangan Keterampilan
Kognitif
Cara
yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan kognitif individu adalah
sebagai berikut:
1) Belajar melakukan dialog batin
sebagai cara untuk menghadapi dan mengatasi masalah atau memperkuat perilaku
diri sendiri.
2) Belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial,
misalnya mengenali pengaruh sosial tehadap perilaku dan melihat diri sendiri
dalam persepektif masyarakat yang lebih luas.
3) Belajar menggunakan
langkah-langkah penyelesaian masalah dan pengambilan kepueusan. misalnya
nmengendalikan dorongan hati, menentukan sasaran, mengedentifikasikan
tindakan-tindakan alternatif, dan memperhitungkan akibat-akibat yang mungkin
timbul.
4) Belajar memahami sudut pandang
orang lain (empati).
5) Belajar memahami sopan santun.
6) Belajar bersikap positif
terhadap kehidupan.
7) Belajar mengembangkan kesadaran
diri.
c.
Pengembangan Keterampilan Perilaku
Cara
yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan prilaku individu adalah
sebagai berikut:
1) Mempelajari keterampilan
komunikasi nonverbal, misalnya berkomunikasi melalui pandangan mata, ekspresi
wajah, gerak-gerik, posisi tubuh, dan sejenisnya.
2) Mempelajari keterampilan
komunikasi verbal.
Cara
lain yang dapat digunakan sebagai intervensi edukatif untuk mengembangkan emosi
remaja agar dapat memiliki kecerdasan emosional adalah dengan melakukan
kegiatan-kegiatan yang didalamnya terdapat materi yang dikembangkan oleh Daniel
Goleman (1995) yang kemudian diberi nama Self
–Science Curriculum, yaitu:
1)
Belajar
mengembangkan kesadaran diri.
2)
Belajar
mengambil keputusan pribadi.
3)
Belajar
mengelola perasaaan.
4)
Belajar
menangani stress.
5)
Belajar
berempati.
6)
Belajar
berkomunikasi.
7)
Belajar
membuka diri.
8)
Belajar
mengembangkan pemahaman.
9)
Belajar
menerima diri sendiri.
10) Belajar mengembangkan tanggung
jawab pribadi.
11) Belajar mengembangkan ketegasan.
12) Mempelajari dinamika kelompok.
13) Belajar menyelesaikan konflik.
C. Perkembangan
Sosial Remaja
Dari banyaknya uraian tentang interaksi,
maka dapat disimpulkan bahwa interaksi mengandung pengertian hubungan timbal
balik antara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di
dalamnya memainkan peran secara aktif (M. Ali & M. Asrori, 2005). Dalam
interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak-pihak yang
terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi.
1. Pola Interaksi Remaja-Orang Tua
Sesuai
dengan tahap perkembangannya, interaksi remaja dengan orang tua memiliki
kekhasan tersendiri. Jersild, Brook, dan Brook (1998) mengatakan bahwa
interaksi antara remaja dengan orang tua dapat digambarkan sebagai drama tiga
tindakan (three-act-drama).
@
Drama tindakan pertama (the first act drama), interaksi remaja dengan orang tua berlangsung
sebagaimana yang terjadi pada interaksi antara masa anak-anak dengan orang tua.
Mereka memiliki ketergantungan kepada orang tua dan masih sangat dipengaruhi
orang tua. Namun, remaja sudah mulai semakin menyadari keberadaan dirinya
sebagai pribadi daripada masa-masa sebelumnya.
@
Drama tindakan kedua (the second act drama), disebut dengan istilah “perjuangan untuk
emansipasi” (Jersild, Brook, dan Brook, 1998). Pada masa ini, remaja juga
memiliki perjuangan yang kuat untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan
dengan orang tuanya sebagaimana pada masa anak-anak untuk mencapai status
dewasa. Dengan demikian, ketika berinteraksi dengan orang tua, remaja mulai
berusaha meninggalkan kemanjaan dirinya dengan orang tua dan semakin
bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Akibatnya, mereka seringkali mengalami
pergolakan dan konflik ketika berinteraksi dengan orang tua.
@
Drama tindakan ketiga (the third act drama), remaja berusaha menempatkan dirinya berteman
dengan orang dewasa berinteraksi secara lancar dengan mereka. Namun, usaha
remaja ini seringkali masih memperoleh hambatan yang disebabkan oleh pengaruh
dari orang tua yang sebenarnya masih belum bisa melepas anak remajanya secara
penuh. Akibatnya, remaja seringkali menentang gagasan-gagasan dan sikap orang
tuanya (Jersild, Brook, dan Brook, 1998).
Dalam
konteks interaksi remaja-orang tua, Fontana (1998: 26) menambahkan adanya aspek
objektif dan subjektif dalam interkasi remaja dan orang tua. Aspek objektif
adalah keadaan nyata dari peristiwa yang terjadi pada saat interaksi antara
remaja dan orang tua berlangsung. Sedangkan aspek subjektif adalah keadaan
nyata yang dipersepsi oleh remaja pada saat interaksi berlangsung. Fontana
(1981: 27) mengatakan bahwa tidak jarang terjadi remaja cenderung menggunakan
aspek subjektif ketika berinteraksi dengan orang tuanya. Contohnya, orang tua
yang bertindak agak keras terhadap remaja karena merasa khawatir dan cemas
terhadap anak remajanya justru dipersepsi oleh remaja sebagai memarahinya.
Padahal, sesungguhnya orang tua bermaksud melindunginya. Atas dasar aspek
subjektif yang sering digunakan oleh remaja dalam berinteraksi dengan orang
tuanya, sebagaimana dikatakan oleh Fortana maka pemahaman terhadap interaksi
remaja perlu memperhatikan bagaimana persepsi remaja tentang interaksinya
dengan orang lain, dan bukan semata-mata interaksi nyata (real interaction).
Jadi,
yang dimaksud dengan interaksi remaja-orang tua adalah hubungan timbal balik
secara aktif antara remaja dengan orng tuanya yang terwujud dalam kualitas
hubungan yang memungkinkan remaja untuk mengembangkan potensi dirinya.
2.
Persepsi
tentang Interaksi Remaja-Orang Tua
Interakasi
yang dimaksud di sini menyangkut apa yang dipersepsi dan dihayati oleh remaja
secara subjektif (Fontana, 1981: 26). Karena antara remaja dan orang tuanya
sama-sama aktif dan saling mempengaruhi maka dalam kajian ini menggunakan
istilah interaksi, bukan relasi, perlakuan, atau kepemimpinan orang tua.
Berkaitan
dengan interaksi remaja-orang tua, Fontana (1981: 31) mengemukakan konsep yang
meliputi sejumlah aspek dan masing-masing aspek mengandung sejumlah indikator,
yaitu:
a.
Persepsi remaja mengenai partisipasi dan keterlibatan
dirinya dalam keluarga. Aspek ini mengandung indikator-indikator sebagai
berikut:
1)
Persepsi remaja mengenai sikap saling
mengahargai di antara para anggota keluarga.
2)
Persepsi remaja mengenai keterlibatan dirinya dalam membicarakan dan memecahkan
masalah yang dihadapi keluarga.
b.
Persepsi remaja mengenai keterbukaan sikap orang
tua. Aspek ini mengandung indikator-indikator sebagai berikut:
1)
Persepsi remaja mengenai toleransi orang tua
terhadap perbedaan pendapat.
2)
Persepsi remaja mengenai kemmampuan orang tua
untuk memberikan alasan yang masuk akal terhadap suatu perbuatan atau keputusan
yang diambil.
3)
Persepsi remaja mengenai keterbukaan orang tua
terhadap minat yang luas.
4)
Persepsi remaja mengenai upaya orang tua untuk
mengembangkan komitmen komitmen terhadap tugas.
5)
Persepsi remaja mengenai kehadiran orang tua di
rumah dan keakraban hubungan antara orang tua dengan remaja.
c.
Persepsi remaja mengenai kebebasan dirinya untuk
melakukan eksplorasi lingkungan. Aspek ini mengandung indikator-indikator
sebagai berikut:
1)
Persepsi mengenai dorongan orang tua untuk
mengembangkan rasa ingin tahu yang lebih besar.
2)
Persepsi remaja mengenai perasaan aman dan bebas
yang diberikan oleh orang tua untuk mengadakan eksplorasi dalam rangka
mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
3)
Persepsi remaja bahwa dalam keluarga terdapat
aturan yang ditaati, tetapi tidak cenderung mengancam.
3.
Karakteristik
Perkembangan Sosial Remaja
Ada
sejumlah karakteristik menonjol dari perkembangan sosial remaja (M. Ali &
M. Asrori, 2005), yaitu sebagai berikut:
a. Berkembangnya Kesadaran akan Kesunyian dan
Dorongan akan Pergaulan
Masa remaja bisa disebut sebagai
masa sosial karena sepanjang masa remaja hubungan sosial semakin tampak jelas
dan sangat dominan. Kesadaran akan kesunyian menyebabkan remaja berusaha
mencari kompensasi dengan mencari hubungan dengan orang lain atau berusaha
mencari pergaulan. Penghayatan kesadaran akan kesunyian yang mendalam dari
remaja merupakan dorongan pergaulan utuk menemukan pernyataan diri akan
kemampuan kemandiriannya. Langeveld (Simanjuntak dan Pasaribu, 1984: 152)
berpendapat bahwa kemiskinan akan hubungan atau perasaan kesunyian remajja
disertai kesadaran sosial psikologis yang mendalam yang kemudian menimbulkan dorongan
yang kuat akan pentingnya pergaulan untuk menemukan suatu bentuk sendiri.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa
berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan pergaulan seringkali
menyebabkan remaja memiliki solidaritas yang amat tinggi dan kuat dengan
kelompok sebayanya, jauh melebihi dengan sekelompok lain; bahkan dengan orang
tuanya sekalipun. Untuk itu, remaja perlu diberikan perhatian intensif dengan
cara melakukan interaksi dan komunikasi secara terbuka dan hangat kepada
mereka.
b. Adanya Upaya Memilih Nilai-Nilai Sosial
Ada dua kemungkinan yang ditempuh
oleh remaja ketika berhadapan dengan bilai-nilai sosial tertentu, yaitu
menyesuaikan diri dengan nilai-nilai tersebut atau tetap pada pendirian dengan
segala akibatnya. Ini berarti bahwa reaksi terhadap keadaan tertentu akan
berlangsung menurut norma-norma tertentu pula. Bagi remaja yang idealis dan
memiliki kepercayaan penuh akan cita-citanya, menuntut norma-norma sosial yang
mutlak meskipun segala sesuatu yang telah dicobanya gagal. Sebaliknya, bagi
remaja yang bersikap pasif terhadap keadaan yang dihadapi akan cenderung
menyerah atau bahkan apatis. Namun, ada kemungkinan seseorang akan menuntut
norma-norma sosial yang demikian mutlak, tetapi tidak pula menolak seluruhmya
(M. Ali & M. Asrori, 2005).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa
adanya upaya memilih nilai-nilai sosial menyebabkan remaja senantiasa mencari
nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan. Dengan demikian, jika tidak
menemukannya cenderung menciptakan nilai-nilai khas kelompok mereka sendiri. Untuk
itu, orang dewasa dan orang tua harus mmenunjukkan konsistensi dalam memegang
dan menerapkan nilai-nilai dalam kehidupannya.
c. Meningkatnya Ketertarikan pada Lawan Jenis
Remaja sangat sadar akan dirinya
tentang bagaimana pandangan lawan jenis mengenai dirinya. Dalam konteks ini,
Kublen (Simanjuntak dan Pasaribu. 1984: 153) bahkan menegaskan bahwa: the social interest of adolescent are
essentially sex social interest. Oleh sebab itu, masa remaja seringkali
disebut juga sebagai masa biseksual. Meskipun kesadaran akan lawan jenis ini
berhubungan dengan perkembangan jasmani, tetapi sesungguhnya yang berkembang
secara dominan bukanlah kesadaran jasmani yang berlainan, melainkan tumbuhnya
ketertarikan terhadap jenis kelamin yang lain. Hubungan sosial yang tidak
terlalu menghiraukan perbedaan jenis kelamin pada masa-masa sebelumnya, kini
beralih ke arah hubungan sosial yang dihiasi perhatian terhadap perbedaan jenis
kelamin. Ada yang mengistilahkan bahwa dunia remaja telah menjadi dunia erotis
(Sunarto, 1998). Keinginan membangun hubungan sosial dengan jenis kelamin lain
dapat dipandang sebagai suatu yang berpangkal pada kesadaran akan kesunyian.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa meningkatnya ketertarikan
pada lawan jenis menyebabkan remaja pada umumnya berusaha keras memiliki teman
dekat dari lawan jenisnya atau pacaran. Untuk itu, remaja perlu diajak
berkomunikasi secara rileks dan terbuka untuk membicarakan hal-hal yang
berhubungan dengan lawan jenis.
d. Mulai Cenderung Memilih Karier Tertentu
Karakteristik berikutnya
sebagaimana dikatakan oleh Kulen bahwa ketika sudah memasuki masa remaja akhir,
mulai tampak kecenderungan mereka untuk memilih karier tertentu meskipun dalam
pemilihan karier tersebut masih terjadi perubahan orientasi karier dan kembali
berusaha menyesuaikan diri dengan karier barunya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa
kemulaian tampaknya kecenderungan untuk memilih karier tertentu, meskipun
sebenarnya perkembangan karier remaja masih berada pada taraf pencarian karier.
Untuk itu, remaja perlu diberikan wawasan karier disertai dengan keunggulan dan
kelemahan masing-masing jenis karier tersebut.
4.
Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Remaja
Perilaku
sosial seseorang dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut
dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu:
a. Faktor Internal
Faktor internal yaitu potensi yang
memang sudah ada pada diri individu yang dibawanya sejak lahir. Jusuf
menyebutkan faktor internal yang berpengaruh terhadap perilaku sosial, yaitu:
1) Harga diri (Self Esteem)
Yaitu sejauh mana individu memandang dan mengahrgai dirinya
sendiri, sehingga ia mampu berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan
sosialnya. Menurut Krech, peningkatanan derajat harga diri dapat membawa
seseorang kepada inisiatif sosial, sedangkan penurunan derajat harga diri dapat
membawa kepada sifat agresif dan tidak bersahabat. Di dalam beberapa studi yang dilakukan oleh para ahli,
telah ditemukan bahwa orang yang menilai baik terhadap diri sendiri, juga
cenderung menilai baik terhadap diri orang lain. Hal ini dapat disimpulkan
bahwa orang yang menerima dirinya sendiri, juga menerima diri orang lain,
sebaliknya orang yang menolak dirinya sendiri cenderung menolak orang lain.
2) Faktor Kecerdasan (Intelligence)
Yaitu kemampuan secara kognitif
yang dimilki oleh individu. Seseorang dapat berperilaku baik, bergaul secara
aktif apabila ia memiliki inteligensi sosial dapat bergaul secara baik dengan
masyarakat. Ia mudah berkawan dan memahami hubungan sosial dapat bergaul secara
baik dengan masyarakat. Ia mudah berkawan dan memahami hubungan manusia.
Melalui kemampuan ini individu mampu menangkap pesan-pesan dari suatu perilaku
serta mampu memahami perilaku sosial yang harus ditampakkan dalam melakukan
hubungan sosial
b. Faktor Eksternal
Proses sosialisasi individu terjadi
di tiga lingkungan utama, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan
lingkungan masyarakat. Dalam proses perkembangan sosial, anak juga dengan
sendirinya mempelajari proses penyesuaian diri dengan lingkungannya, baik di
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat.
Perkembangan sosial individu sangat tergantung pada kemampuan individu untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta keterampilan mengatasi masalah
yang dihadapinya (M. Ali & M. Asrori, 2005). Berikut ini didiskusikan
pengaruh lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat terhadap perkembangan
sosial:
1) Lingkungan Keluarga
Perilaku sosial dan sikap remaja mencerminkan
perlakuan yang diterima di rumah. Anak yang merasa ditolak oleh orang tuanya
atau saudaranya mungkin menganut sikap kesyahidan (attitude of martyrdom) di luar rumah dan membawa sikap ini sampai
dewasa. Anak semacam itu mungkin akan menyendiri dan menjadi introvert. Sebaliknya, penerimaan dan
sikap orang tua yang penuh cinta kasih mendorong remaja bersifat ekstrovert.
Gardner (1983) dalam penelitiannya menemukan bahwa
interaksi antaranggota keluarga yang tidak harmonis merupakan suatu korelat
yang potensial menjadi perkembangan sosial remaja. Remaja juga tengah berada
pada fase krisis identitas atau ketidaktentuan, mereka amat memerlukan teladan
tentang norma-norma yang mapan untuk diidentifikasi. Perwujudan norma-norma
yang mantap itu tentunya menuntut orang tua sebagai pelopor norma. Dengan demikian,
faktor keteladanan dari sosok pribadi orang tua menajadi amat penting bagi
variasi perkembangan sosial remaja pada keluarga yang bersangkutan. Pentingnya
faktor keteladanan dikuatkan oleh Fawzia Aswin Hadis (1991) dan Soetjipto
Wirosardjono (1991) bahwa orang tua harus dapat menjadi panutan dan jangan
menerapkan orientasi (parent-oriented)
orang tua serba benar, memiliki privilege,
dan menekankan otoritas.
2) Lingkungan Sekolah
Kehadiran di sekolah merupakan
perluasan lingkungan sosialnya dalam proses sosialisasinya dan sekaligus
merupakan faktor lingkungan baru yang sangat menantang atau bahkan mencemaskan
dirinya. Para guru dan teman-teman sekelas membentuk suatu sistem yang kemudian
menjadi semacam lingkungan norma bagi dirinya. Selama tidak ada pertentangan,
selama itu pula anak tidak akan mengalami kesulitan dalam meyesuaikan dirinya.
Namun, jika salah satu kelompok lebih kuat dari lainnya, anak akan menyesuaikan
dirinya dengan kelompok dimana dirinya
dapat diterima dengan baik.
Moh. Ali dan Moh. Asrori (2005: 96) mengemukakan empat
tahap proses penyesuaian diri yang harus dilalui oleh anak selama membangun
hubungan sosialnya, yaitu sebagai berikut:
a)
Anak dituntut agar tidak merugikan orang lain
serta menghargai dan menghormati hak orang lain.
b)
Anak dididik untuk menaati peraturan-peraturan
dan meyesuaikan diri denagn norma-norma kelompok.
c)
Anak dituntut untuk lebih dewasa di dalam
melakukan interaksi sosial berdasarkan asas saling member dan menerima.
d)
Anak dituntut untuk memahami orang lain.
Keempat tahap proses penyesuaian
diri berlangsung dari proses yang sederhana ke proses yang semakin kompleks dan
semakin menuntut penguasaan sistem respons yang kompleks pula. Selama proses
penyesuaian diri, sangat mungkin anak menghadapi konflik yang dapat berakibat
pada terhambatnya perkembangan sosial mereka.
Sekolah diartikan sebagai fasilitator
karena iklim kehidupan lingkungan sekolah yang kurang positif dapat menciptakan
hambatan bagi perkembangan hubungan sosial remaja. Sebaliknya, sekolah yang
iklim kehidupannya bagus dapat memperlancar atau bahkan memacu perkembangan
hubungan sosial remaja. Kondusif tidaknya iklim kehidupan sekolah bagi
perkembangan hubungan sosial remaja tersimpul dalam interaksi antara guru
dengan siswa, siswa dengan siswa, keteladanan perilaku guru, etos keahlian atau
kualitas guru yang ditampilkan dalam
melaksanakan tugas profesionalnya sehingga dapat menjadi model bagi siswa yang
tumbuh remaja. Hadir atau tidaknya faktor-faktor tersebut secara favourable dapat mempengaruhi
perkembangan hubungan sosial remaja, meskipun disadari pula bahwa sekolah
bukanlah satu-satunya faktor penentu (Burrow & Woods, 1982).
3) Lingkungan Masyarakat
Sebagaimana dalam lingkungan
keluarga dan sekolah maka iklim kehidupan dalam masyarakat yang kondusif juga sangat
diharapkan kemunculannya bagi perkembangan hubungan sosial remaja (M. Ali &
M. Asrori, 2005). Lingkungan masyarakat yang dimaksud disini adalah:
a) Teman Sebaya
Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial), yang
ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan
kelompok sebayanya (peer group).
Penolakan dari peer group dapat
menimbulkan frustasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya, apabila remaja
dapat diterima oleh rekan sebayanya dan menjadi idola tentunya ia akan merasa
bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya (Sudrajat, 2008).
b) Media Massa
Media massa berupa perangkat komunikasi majalah, surat
kabar, radio, televisi dan sebagainya, mempunyai peranan dalam mengembangkan
perilaku sosial remaja. Salah satu medi massa yang sangat berpengaruh terhadap
remja adaklah televisi. Jika ternyata remaja lebih akrab dengan televisi, maka
kepribadian yang trpencar dalam tingkah lakunya sangat dipengaruhi oleh
acara-acara televisi. Hal ini dikarenakan terjadinya proses peniruan atau
imitasi yang dilakukan oleh anak sangat dominan dalam kehidupan keseharian.
5.
Bentuk-Bentuk
Perilaku Sosial Remaja
Ada
berbagai macam kekhususan tingkah laku social remaja yang penting untuk
dipahami, yaitu:
a. Ketertarikan terhadap Lawan Jenis
Hal ini merupakan suatu perubahan
hubungn sosial yang menonjol pada periode remaja. Ketertarikan terhadap lawan
jenis dapat dilihat dari kegembiraan dalam kelompok anggota yang yang kelompok
anggotanya heterogan, yaitu terdiri dari pria dan wanita yang sebelumnya remaja
menyukai berkelompok dengan anggota kelompok yang homogen, yaitu terdiri wanita
sama wanita dan pria sama pria. Ada beberapa kriteria yang harus dimiliki
remaja untuk dapat menjadi popular diantaranya adalah penampilan fisik yang
menarik (pria dengan bentuk tubuh gagah dan wanita dengan wajah yang menawan
dan tubuh yang seimbang, sikap yang tenang namun periang, dan penuh perhatian)
( Hurlock, 1980).
b. Kemandirian Bertingkah Laku Sosial
Tingkah laku lainnya yang
berkembang pada priode remaja adalah tingkah laku social yang mandiri, artinya
remaja memilih dan menentukan sendiri dengan siapa dia akan berteman. Karena
remaja berusaha mandiri dalam bersosialisasi maka diharpkan remaja dapat
mengambil keputusan tingkah laku yang tepat dalam menghadapi orang-orang yang
baru dalam situasi yang baru, dan semua ini memerlukan proses belajar.
c. Kesenangan Berkelompok
Hidup berkelompok teman sebaya
merupakan kebutuhan pada masa remaja. (Hurlock, 1980).
1)
Kelompok Teman Dekat
Kelompok ini muncul pada masa
remaja awal atau puber yang terdiri dari dua atau tiga orang teman dekat dengan
jenis kelain yang sama. Dalam kelompok terjadi saling membantu pemecahan
masalah, berbagai rasa aman namun tidak jarang terjadi pertengkaran, tapi
mereka akan rukun kembali.Kelompok kecil. Teman yang dipilih cenderung yang
sama minat dan sama pandangan dalam memahami permasalahan hidup.
2)
Kelompok Besar
Kelompok ini terbentuk sejalan
dengn peningkatan aktivitas remaja itu seperti kegiatan rekreasi, acara-acara
kesenian, olah raga, dan sebagainya.
3)
Kelompok Terorganisasi
Merupakan kelompok pemuda yang
terorganisir oleh orang dewasa untuk tujuan pembinaan terhadap remaja.
Kegiatannya diarahkan kepada kegiatan yang bermanfaat bagi perkembangan remaja
itu sendiri maupun masyarakat.
4)
Kelompok Geng
Kelompok ini beranggotakan remaja
yang ditolak atau tidak puas dalam kelompok terorganisasi, lalu menggabungkan
diri menjadi kelompok yang disebut geng.
6.
Upaya
Pengembangan Hubungan Sosial Remaja
a. Upaya Orang Tua dalam Pengembangan Hubungan
Sosial Remaja
Keluarga merupakan tempat pertama
dan utama bagi remaja dalam mendapatkan pendidikan. Kepuasan psikis yang
diperoleh remaja dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana ia akan
bereaksi terhadap lingkungan. Remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak
harmonis atau broken home sehingga tidak mendapatkan kepuasaan psikis yang
cukup akan sulit mengembangkan keterampilan sosialnya. Seperti yang diuraikan
oleh Enung Fatimah dalam buku Psikologi Perkembangan (2006: 96) bahwa remaja
yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis akan sulit mengembangkan
keterampilan sosialnya, yang terlihat dari:
1)
Kurang adanya saling pengertian (low mutual
understanding).
2)
Kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan
orang tua dan saudara.
3)
Kurang mampu berkomunikasi secara sehat.
4)
Kurang mampu mandiri.
5)
Kurang mampu memberi dan menerima sesama
saudara.
6)
Kurang mampu bekerjasama.
7)
Kurang mampu mengadakan hubungan yang baik.
Dengan memerhatikan hal-hal tersebut,
orang tua hendaknya menyadari betapa pentingnya keharmonisan keluarga dalam
perkembangan hubungan sosial remaja. Orang tua harus mampu menciptakan suasana yang
menyenangkan dan nyaman bagi remaja. Keharmonisan tidaklah selalu identik
dengan adanya orang tua yang utuh, sebab dalam banyak kasus orang tua single
terbukti dapat berfungsi efektif dalam membantu perkembangan psikososial anak.
Hal yang paling penting diperhatikan oleh orang tua adalah menciptakan suasana
yang demokratis di dalam keluarga sehingga remaja dapat menjalin komunikasi
yang baik dengan orang tua maupun saudara-saudaranya.
Sejalan dengan itu, Hoffman (dalam Muhammad
Al-Mighwar, 2006: 212) mengajukan tiga pola untuk menumbuh kembangkan potensi
interaksi sosial remaja, yaitu:
1) Induction
(Pola Asuh Bina Kasih)
Yaitu pola asuh yang dilakukan
orang tua atau orang dewasa lainnya dalam mendidik anak dan remaja melalui
pemberian penjelasan yang rasional terhadap segala sikap dan keputusan yang
akan diterapkan kepadanya.
2) Power
Assertion (Pola Asuh Unjuk Kuasa)
Yaitu pola asuh yang dilakukan
orang tua atau orang dewasa lainnya dalam mendidik anak dan remaja melalui
pemaksaan kehendak, sekalipun anak kurang
bisa menerimanya.
3) Love
Withdrawal (Pola Asuh Lepas Kasih)
Yaitu pola asuh yang dilakukan orang tua
atau orang dewasa lainnya dalam mendidik anak dan remaja melalui penarikan atau
pengurangan kasih sayangnya bila anak tersebut tidak mematuhi kehendaknya,
kemudian memberikannya kembali ketika anak sudah mematuhinya.
Dengan menerapkan ketiga pola itu secara
tetap, namun disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang, diharapkan
remaja belajar bagaimana seharusnya bersikap yang benar dalam menghadapi orang
lain, apa yang membuat orang lain senang dan tidak senang, dan apa konsekuensi
yang diterimanya bila perilakunya tidak sesuai dengan harapan dan tuntutan
orang lain. Dari proses belajar itu, lambat laun interaksi sosial remaja akan
semakin baik.
Elida Prayitno menjelaskan (2006: 90) andaikan
konflik antara remaja dengan orang tua berlangsung terus-menerus akibatnya
kemandirian sosial yang sempurna tidak akan tercapai karena:
1)
Orang tua (lingkungan sosial) yang membatasi
kesempatan bagi remaja untuk mengambil keputusan sendiri. Tindakan orang tua
seperti ini tidak memberi kesempatan bagi remajanya untuk mandiri.
2)
Orang tua yang tidak dapat dijadikan model
memperoleh kemandirian sosial, karena memiliki sifat ketergantungan. Orang tua
yang kurang mandiri tersebut cenderung tidak memberi kesempatan mandiri bagi
anak-anaknya dalam bertingka laku sosial.
Pertentangan antara orang tua dengan
remaja biasanya tidak akan berlangsung lama dan akhirnya berubah menjadi
hubungan yang harmonis (Stanton, dalam Elida Prayitno, 2006: 90). Jika terjadi
hubungan yang harmonis kembali dengan orang tua maka remaja dapat
memperkenalkan nilai-nilai baru kepada orang tuanya, sehingga orang tua dapat
menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Elida Prayitno (2006: 91) menguraikan beberapa tipe
pemeliharaan yang dilakukan orang tua dan bentuk tingkah laku sosial yang akan
dimilki remaja, yaitu:
1)
Tipe pemeliharaan menunjukkan cinta yang tulus
dan sepenuh hati terhadap anak dan remajanya, maka anak dan remajanya akan
memperlihatkan hubungan sosial yang baik dan menilai orang lain secara positif,
karena anak remaja itu memiliki penilaian yng positif terhadap dirinya sendiri.
2)
Tipe pemeliharan yang hangat dalam memberikan
batasan-batasan dan disiplin terhadap anak remajanya, maka dalam bersosialisasi
anak atau remaja akan menampakkan tingkah laku yang sopan santun, mudah
bekerjasama, kurang agresif, mandiri dan memiliki sifat bersaing yang sehat
denga teman sebaya.
3)
Tipe pemeliharaan yang hangat tetapi terlalu
bebas atau belum sesuai dengan tingkat perkembangan mereka, maka anak dan
remaja cenderung bertingkah laku sosial yang tegas. Anak dan remaja cenderung
agresif dan kurang mampu bekerjasama.
4)
Tipe pemeliharaan yang menolak dan memusuhi,
mengakibatkan remaja bertingkah laku sosial yang buruk sehingga cenderung
menampilkan hubungan sosial yang kurang baik dengan teman sebaya maupun dengan
orang dewasa, mengalami psikosomatis, dan bertingkah laku nakal (delinguent). Disamping itu mereka
menjadi anak yang berprestasi rendah dibandingkan kemampuan kognitif yang
mereka miliki.
5)
Tipe pemeliharaan yang terlalu membatasi tingkah
laku anak dan remajanya, menimbulkan tingkah laku sosial yang salah karena anak
memiliki perasaan yang tidak puas tentang dirinya. Anak yang dibesarkan dengan
pemeliharaan seperti ini mempunyai dorongan ingin tahu rendah, kurang kreatif
dan kurang fleksibel dalam menghadapi masalah intelektual atau masalah akademis
maupun sosial.
b. Upaya Guru dan Konselor dalam Pengembangan
Hubungan Sosial
Sekolah merupakan lembaga pendidikan
resmi yang bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan kepada siapa pun yang
berhak. Oleh karena itu, remaja banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Dengan
demikian sekolah mempengaruhi tingkah laku remaja khususnya tingkah laku
sosialnya. Sekolah sebagai lembaga formal yang diserahi tugas untuk
menyelenggarakan pendidikan tentunya tidak kecil peranannya dalam membantu
pengembangan hubungan sosial remaja. Dalam hal ini, guru juga harus mampu
mengembangkan proses pendidikan yang bersifat demokratis. Jika guru tetap
berpendirian bahwa dirinya sebagai tokoh intelektual dan tokoh otoritas yang
memegang kekuasaan penuh maka perkembangan hubungan sosial remaja akan
terganggu.
Sebab remaja bukan anak-anak lagi
yang senantiasa memiliki sikap mengagumi gurunya sebagai tokoh yang harus
dipatuhi melebihi siapa pun. Untuk itu guru harus mampu mengembangkan perannya
selain sebagai guru juga sebagai pemimpin yang demokratis. Tugas guru tidak
hanya semata-mata mengajar, melainkan juga mendidik. Artinya selain menyampaikan
pelajaran juga harus membina peserta didik menjadi dewasa yang bertanggung
jawab. Dengan demikian, perkembangan hubungan sosial remaja akan dapat
berkembang secara maksimal.
Karena pada masa remaja peran
kelompok dan teman sebaya sangat besar maka guru BK atau konselor dapat
menjalankan berbagai layanan seperti layanan bimbingan kelompok serta membentuk
kelompok-kelompok belajar siswa dengan menggabungkan siswa laki-laki dan
perempuan. Sehingga dalam kelompok tersebut remaja dapat berlatih dan membiasakan
diri berhubungan sosial dengan teman sebaya yang sesama jenis dan beda jenis.
Di sekolah, guru seharusnya
memiliki banyak perencanaan kegiatan kelompok untuk mengembangkan tingkah laku
sosial remaja, seperti kerjasama, saling membantu, saling menghormati dan
menghargai, misalnya kelompok pengembangan khusus, seperti kelompok menyanyi,
menari, olahraga, dan keterampilan lainnya (Elida Prayitno, 2006: 93).
c. Upaya Masyarakat dalam Mengembangkan
Hubungan Sosial
Variasi perkembangan individu terjadi dalam segala macam
hubungan dan pengalaman, termasuk variasi kebudayaan dan sosial yang ada dalam
masyarakat. Sistem kebudayaan, lapisan sosial, kelompok agama, dan sebagainya
memiliki nilai-nilai tersendiri yang sudah tentu sangat berpengaruh terhadap
para anggotanya. Tugas utama masyarakat adalah menekan seminimal mungkin
tingkah laku atau sikap negatif para remaja dan mengembangkan tingkah laku
positif, termasuk di dalamnya pengembangan hubungan sosial remaja. Para
pemimpin dalam masyarakat, seperti pemimpin organisasi politik, agama, dan
organisasi lainnya memikul tugas dan tanggung jawab dalam upaya pengembangan
sosial remaja agar tidak mengarah kepada hubungan sosial yang bersifat negatif
dan destruktif.
D. Perkembangan
Kognitif Remaja
Menurut
Jean Piaget, remaja ada dalam tahapan perkembangan kognitif terakhir yaitu
tahap operasional formal yang dimana berada pada usia 11 tahun ke atas.
Pada masa ini, remaja telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam
pekerjaannya yang merupakan hasil dari pikiran logis. Aspek perasaan dan
moralnya juga telah berkembang sehingga dapat mendukung penyelesaikan
tugas-tugasnya. Pada tahap ini, menurut Pieget interaksinya dengan lingkungan
sudah amat luas, menjangkau banyak teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk
dapat berinteraksi dengan orang dewasa.
Kondisi seperti ini tidak jarang menimbulkan masalah dalam interaksinya
dengan orang tua. Namun sebenarnya secara diam-diam mereka juga masih juga
mengharapkan perlindungan dari orang tua karena belum sepenuhnya mampu memenuhi
kebutuhan dirinya sendiri (M. Ali & M. Asrori, 2005). Mereka juga mampu
mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan
menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan
operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan
lingkungan sekitar mereka.
Tetapi, pada
kenyataannya, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat
banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap
perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada
tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir
yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari
berbagai dimensi.
1.
Karakteristik
Perkembangan Kognitif Remaja
a. Individu
dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi.
b. Individu
mulai mampu berpikir logis dengan objek-objek yang abstrak.
c. Individu
mulai mampu memecahkan masalah persoalan-persoalan yang bersifat hipotesis.
d. Individu
bahkan mulai mampu membuat perkiraan.
e. Individu
mampu untuk mengintrospeksi diri sendiri sehingga kesadaran diri sendiri
tercapai.
2.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif Remaja
a. Faktor Hereditas
Potensi yang dibawa anak semenjak
dalam kandungan, tidak akan berkembang aau terwujud secara optimal apabila
lngkungan tidak member kesempatan untuk bekembang. Oleh karena itu, peranan
lingkungan sangat menentukan perkembangan intelektual anak.
b. Faktor Lingkungan
Unsur-unsur yang mempengaruhi:
1) Keluarga
Intervensi yang paling penting dilakukan
oleh keluarga atau orang tua adalah memberikan pengalaman pada remaja dalam
berbagai bidang kehidpan sehingga remaja memiliki informasi yang banyak yang
merupakan alat bagi anak untuk berpikir.
2) Sekolah
Sekolah adalah lembaga yang formal
yang diberi tanggung jawab untuk meningkatkan perkembangan remaja termasuk
perkembangan berpikir anak. Beberapa cara untuk mengembangkan intelektual anak
adalah sebagai berikut:
@
Menciptakan interaksi atau hubungan yang akrab
dengan peserta didik.
@
Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
berinteraksi dengan orang-orang yang lebih berpengalaman dalam berbagai bidang
ilmu pengetahuan.
@
Menjaga dn meningkatkan pertumbuhan fisik anak,
baik melalui kegiatan olahraga maupun menyediakan gizi yang cukup.
@
Meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik.
c. Faktor Ekonomi
Dari hasil penelitian yang
dilakukan pada pusat pengembangan anak yayasan compassion Indonesia di kota
malang, ditemukan bahwa:
@
Sebagian besar tingkat motivasi berprestasi
reamja miskin berada pada kategori rendah.
@
Sebagian besar tingkat nilai kesuksesan
berprestasi remaja miskin berada pada kategori rendah.
@
Ada hubungan yang signifikan antara nilai
kesuksesan dan motivasi berprestasi.
@
Kemiskinan membatasi anak-anak memperoleh
pendidikan.
@
Kemiskinan juga mempengaruhi kehidupan sosial.
3.
Upaya
Membantu Perkembangan Kognitif dan Implikasinya bagi Pendidikan
Kemampuan
kognitif peserta didik adalah kesadaran pendidik terhadap kempuan intelek setiap
peserta didik harus dikembangkan agar potensi yang dimiliki setiap individu
terwujud sesuai dengan perbedaan masing-masing (M. Ali & M. Asrori, 2005).
Menurut
Conny Semiawan (1984), kemampuan kognitif anak yang di dalamnya menyangkut
keamanan psikologis dan kebebasan psikologis merupakan faktor yang sangat
penting. Kondisi psikologis yang perlu diciptakan agar peserta didik merasa
aman secara psikologis sehingga mengembangkan kemampuan kognitifnya adalah
sebagai berikut:
a. Pendidik penerima
peserta didik secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat.
Artinya, apapun keberadaan peserta didik dengan segala kekuatan harus diterima dengan
baik, serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya setiap peserta
didik memiliki kemampuan kognitif yang dikembangkan secara maksimal.
b. Pendidik menciptakan
suasana dimana peserta didik tidak merasa terlalu dinilai dengan orang lain.
Memberi penilaian terhadap peserta didik dengan berlebihan dapat dirasakan
sebagai ancaman sehingga menimbulkan kebituhan akan pertahan diri.
c. Pendidik memeberikan
pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku peserta
didik. Dapat menempatkan diri dalam situasi
peserta didik serta meliht sesuatu dari sudut pandang mereka. Dalam suasan
seperti ini, peserta didik akan merasa aman untuk mengembangkan dan
menegmukakan pemikiran atau ide-idenya.
d. Menerima remaja secara
positif, sebagaimana adanya tanpa syarat. Artinya,
apapun adanya remaja iu dengan segala kekuatan dan kelemahannya harus diterima
dengan baik.
e. Memahami pemikiran,
perasaan, dan perilaku remaja, menempatkan diri dalam situais remaja, serta
melihat sesuatu dari sudut pandang mereka. Dalam suasana
ini, seperti remaja akan merasa aman untuk mengembangkan dan mengemukakan
ide-idenya.
Anak
atau remaja akan merasakan kebebasan psikologis jika orang tua atau guru
memberi kesempatan kepadanya untuk mengungkapkan pikiran atau perasannya. Teori
Pieget mengenai pertumbuhan kognitif sangat erat dan penting hubungannya dengan
dengan umur serta perkembangan moral (M. Ali & M. Asrori, 2005).
E.
Perkembangan
Bahasa Remaja
Menurut Trigan (1986), perkembangan
bahasa remaja telah mencapai tahap kompetensi lengkap. Pada usia ini individu diharapkan
telah mempelajari semua sarana bahasa dan keterampilan-keterampilan performasi
untuk memahami dan menghasilkan bahasa tertentu dengan baik.
1.
Karakteristik
Perkembangan Bahasa Remaja
Karakteristik
perkembangan bahasa remaja sesungguhnya didukung oleh perkembangan kognitif
yang menurut Jean Piaget telah mencapai tahap oprasional formal, yang dimana perkembangan
kognitifnya remaja mulai mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip berfikir normal
atau berfikir ilmiah secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami
peningkatan kemampuan dalam menyusun pola hubungan secara komprehensif,
membandingkan secara kritis atau fakta dan asumsi dengan mengurangi penggunaan
simbol-simbol dalam terminologi konkret dalam mengomunikasikannya (M. Ali &
M. Asrori, 2005).
Sejalan dengan
perkembangan psikis remaja yang berada pada fase mencari jati diri, ada tahapan
kemampuan berbahasa pada remaja yang berbeda dari tahap sebelum atau sesudahnya
yang kadang-kadang menyimpang dari norma umum seperti istilah-istilah khusus
dikalangan remaja. Karakteristik psikologi khas remaja seringkali mendorong
remaja membangun dan memiliki bahasa
yang relatif berbeda dan bahkan khas untuk kalangan remaja sendiri,
sampai sampai tidak jarang orang diluar kalangan remaja kesulitan memahaminya.
Dalam perkembangan masyarakat moderen sekarang ini, di kota-kota besar bahkan
berkembang pesat bahasa khas remaja yang sering dikenal dengan bahasa gaul.
Bahkan karena pesatnya perkembangan bahasa gaul ini dan untuk membantu kalangan
di luar remaja memahami bahasa mereka, Debby Sahertian (2000) telah menyusun
dan menerbitkan sebuah kamus khas remaja
yang disebut dengan “Kamus Bahasa Gaul”. Dalam kamus itu tertera sekian ribu
bahasa gaul yang menjadi bahasa khas remaja yang jika kita pelajari sangat
berbeda dengan bahasa pada umumnya. Kalangan remaja justru sangat akrab dan
sangat memahami bahasa gaul serta merasa lebih aman jika berkomunikasi dengan sesama remaja
menggunakan bahasa gaul.
2.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Bahasa Remaja
Secara terperinci, faktor perkembangan bahasa remaja dapat
diidentifikasikan sebagai berikut:
a.
Kognisi
Tinggi rendahnya kemampuan kognisi
individu akan mempengaruhi cepat-lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini
relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan
antara pikiran dengan bahasa seseorang.
b.
Pola
Komunikasi dalam Keluarga
Dalam suatu keluarga yang pola
komunikasinya banyak arah atau interaksinya relatif demokratis akan mempercepat
perkembangan bahasa anggota keluarganya dibanding yang menerapkan pola komunikasi interaksi
yang sebaliknya
c.
Jumlah
Anak dan Anggota Keluarganya
Suatu keluarga yang memilki banyak anka
atau banyak anggota keluarga perkembangan bahasa anak akan lebih cepat, karena
terjadi komunikasi yang bervariasi diandingkan keluarga yang hanyamemiliki anak
tunggal dan tidak ada anggota keluarga lain selain keluarga inti.
d.
Posisi
Urutan Kelahiran
Perkembangan bahasa anak yang posisi
urutan kelahirannya ditengah akan lebih cepat, ketimbang anak sulung atau anak
bungsu. Hal ini anak tengah memiliki arah komuikasi keatas maupun kebawah.
Adapun anak sulung hanya memiliki arah komunikasi kebawah saja dan anak bungsu
hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.
e.
Kedwibahasaan
(Bilingualisan)
Anak yang dibesarkan dalam keluarga
yang menggunakan bahasa lebih dari satu akan lebih bagus dan lebih cepat
perkembangan bahasanyabketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena
anak terbiasa menggunakan bahasa berariasi. Misalnya, didalam rumah dia menggunakan bahasa Sunda dan diluar
rumah menggunakan bahasa Indonesia.
3.
Upaya
Pengembangan Kemampuan Bahasa Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan
Pendidikan
Kelas
atau kelompok belajar terdiri dari siswa yang bervariasi bahasanya, baik
kemampuannya maupun polanya. Menghadapi hal ini guru harus mengembangkan
strategi belajar-mengajar bidang bahasa dengan memfokuskan pada potensi dan
kemampuan anak. Diantaranya adalah:
a.
Anak perlu melakukan pengulangan (menceritakan
kembali) pelajaran yang telah diberikan dengan kata dan bahasa yang disusun
oleh murid-murid sendiri. Dengan cara ini senantiasa guru dapat melakukan
identifikasi tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa murid-muridnya.
b.
Berdasar hasil identifikasi itu, guru melakukan
pengembangan bahasa murid dengan menambahkan perbendaharaan bahasa lingkungan yang telah dipilih secara tepat
dan benar oleh guru. Cerita murid tentang isi pelajaran yang telah dipercaya
itu diperluas untuk langkah-langkah selanjutnya, sehingga para murid mampu
menyusun cerita lebih komprehensif tentang isi bacaan yang telah dipelajari
dengan menggunakan pola bahasa mereka sendiri.
c.
Perkembangan bahasa yang menggunakan model
pengekspresian secara mandiri, baik lisan maupun tertulis, dengan mendasarkan
pada bahan bacaan akan lebih mengembangkan kemampuan bahasa anak membentuk pola
bahasa masing-masing. Dalam penggunaan model ini guru harus banyak memberikan
rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas. Dalam pada
itu sarana perkembangan bahasa seperti buku-buku, surat kabar, majalah, dan
lain-lainnya hendaknya disediakan di sekolah maupun di rumah.
F.
Perkembangan
Psikomotorik Remaja
Dalam psikologi, kata motor
diartikan sebagai istilah yang menunjukkan pada hal, keadaan, dan kegiatan yang
melibatkan otot-otot juga gerakan. Secara singkat motor dapat pula dipahami
sebagai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi atau
rangsangan terhadap kegiatan-kegiatan organ fisik. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa perkembangan psikomotorik adalah perkembangan pengendalian jasmaniah
melalui kegiatan pusat saraf, urat saraf, dan otot yang berkoordinasi.
Pesatnya
pertumbuhan fisik pada masa remaja sering menimbulkan kejutan pada diri remaja
itu sendiri. Pakaian yang dimilikinya seringkali menjadi cepat tidak muat dan
harus membeli yang baru lagi. Kadang-kadang remaja dikejutkan dengan perasaan
bahwa tangan dan kakinya terlalu panjang sehingga tidak seimbang dengan besar
tubuhnya. Oleh karena itu, seringkali gerak-gerak remaja menjadi serba canggung
dan tidak bebas. Gangguan dalam bergerak yang disebabkan oleh pesatnya
pertumbuhan fisik pada remaja seperti ini dikenal dengan istilah gangguan regulasi.
1.
Karakteristik
Perkembangan Fisik Remaja
a. Perkembangan Anatomis
Perkembangan anatomis ditunjukkan
dengan adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang-belulang indeks tinggi
dan berat badan, proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan
secara keseluruhan:
1)
Tulang-belulang pada usia menjelang dewasa
menjadi 200 integrasi, persenyawaan dan pergeseran (Crow & Crow, 1956: 36).
2)
Berat dan tinggi badan pada awal masa remaja
sekitar 30-40 kg dan 140-160 cm, selanjutnya kepesatan perubahan berkurang,
bahkan menjadi mapan.
3)
Proporsi tinggi kepala dan badan pada masa
menjelang dewasa menjadi 1:8 atau 10.
Adanya abnormalitas dalam perkembangan fisik secara
anatomis ini (misalnya cretinisme, giantisme) akan berpengaruh atas segi-segi
kepribadiannya seperti tersebut di atas.
b. Perkembangan Fisiologis
Perkembangan
fisiologis ditandai dengan adanya perubahan-perubahan secara kuantitatif,
kualitatif, dan fungsional dari sistem-sistem kerja hayati seperti konstraksi
otot, peredaran darah dan pernafasan, persyarafan, sekresi kelenjar dan
pencernaan. Untuk lebih jelasnya, M. Ali dan M. Asrori menjabarkan perkembangan
fisik pada remaja sebagai berikut:
1) Pada Remaja Putri
@
Ada perasaan
seolah-olah belum dapat menerima kenyataan bahwa tanpa dibayangkan sebelumnya
kini buah dadanya membesar.
@
Pertumbuhan kelenjar
endoktrin yang telah mencapai taraf
kematangan sehingga mulai berproduksi menghasilkan hormon yang bermanfaat bagi tubuh, akibatnya,
remaja mulai merasa tertarik kepada lawan jenisnya.
@
Perkembangan hormon
pada remaja putri menyebabkan mereka mulai mengalami menstruasi yang seringkali
pada awal mengalaminya menimbulkan kegelisahan.
@
Berproduksinya
kelenjar hormon bagi sementara remaja juga dapat menyebabkan timbulnya jerawat
pada bagian wajahnya yang seringkali juga menimbulkan kegelisahan pada mereka,
lebih-lebih pada remaja putri.
@
Pertumbuhan fisik yang
cepat pada remaja sangat membutuhkan zat-zat pembangun yang diperoleh dari
makanan sehingga remaja pada umumnya menjadi pemakan yang kuat.
2)
Pada
Remaja Putra
@ Pertumbuhan
lekum menyebabkan suara remaja itu menjadi parau untuk beberapa waktu dan
akhirnya turun satu oktav.
@ Pertumbuhan
kelenjar endoktrin yang telah mencapai
taraf kematangan sehingga mulai berproduksi menghasilkan hormon yang bermanfaat bagi tubuh, akibatnya,
remaja mulai merasa tertarik kepada lawan jenisnya.
@ Pada
waktu tidur, karena ketertarikan kepada lawan jenis yang disebabkan oleh
perkembangan hormon mengakibatkan remaja putra sering mimpi basah.
@ Berproduksinya
kelenjar hormon bagi sementara remaja juga dapat menyebabkan timbulnya jerawat
pada bagian wajahnya yang seringkali juga menimbulkan kegelisahan pada mereka,
lebih-lebih pada remaja putri.
@ Pertumbuhan
fisik yang cepat pada remaja sangat membutuhkan zat-zat pembangun yang
diperoleh dari makanan sehingga remaja pada umumnya menjadi pemakan yang kuat.
2.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Psikomotorik Remaja
a. Faktor Internal
Faktor internal
adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu. Termasuk ke dalam
faktor internal ini adalah sebagai berikut:
1)
Sifat
Jasmaniah yang Diwariskan dari Orang Tuanya
Anak yang ayah ibunya bertubuh
tinggi cenderung lebih keras menjadi tinggi daripada anak yang berasal dari
orang tua yang bertubuh pendek.
2)
Kematangan
Secara sepintas, pertumbuhan
seolah-olah seperti sudah direncanakan oleh faktor kematangan. Meskipun anak
itu diberi makanan yang bergizi tinggi,tetapi kalau saat kematangan belum
sampai, pertumbuhan akan tertunda. Misalnya, anak berumur tiga bulandiberi
makanan yang cukup bergizi supaya pertumbuhan otot kakinya berkembang sehingga
mampu untuk berjalan. Ini tudak mungkin berhasil sebelum mencapai umur lebih
dari sepuluh bulan.
b.
Faktor
Eksternal
Faktor eksternal ialah faktor yag\ng
berasal dari luar diri anak. Termasuk ke dalam faktor eksternal adalah sebagai
berikut:
1)
Kesehatan
Anak yang
sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat.
2)
Makanan
Anak
yang kurang gizi pertumbuhannya akan terhambat, sebaliknya yang cukup gizi
pertumbuhannya pesat.
3)
Simulasi
Lingkungan
Individu yang
tubuhnya sering dilatih untuk meningkatkan percepatan pertumbuhannya akan
berbeda dengan yang tidak pernah menjalani latihan.
3.
Upaya
Membantu
Pertumbuhan Fisik dan Implikasinya bagi Pendidikan
Dalam
batas-batas atertentu, percepatan pertumbuhan fisik dapat dibantu dengan berbagai
usaha atau stimulasi secara sistematis, antara lain sebagai berikut:
a. Menjaga Kesehatan
Badan
Kebiasaan hidup
sehat, bersih, dan olahraga secara teratur akan dapat membantu menjaga
kesehatan pertumbuhan tubuh. Namun, apabila ternyata masih terkena penyakit,
haruslah segara diupayakan agar lekas sembuh, sebab kesehatan sangat
berpengaryh terhadap pertumbuhan fisik.
b. Memberi Makanan yang
Baik
Makan yang baik ialah makanan yang banyak mengandung gizi,
segar dan sehat, serta tidak tercemar oleh kotoran atay penyakit. Baik buruknya
makanan yang dimakan oleh anak akan menentukan pula kecapatan petumbuhan fisik.
Para remaja mengalami pertumbuhan fisik yang capat. Oleh karena itu, memerlukan
zat-zat pembangun yang terdapat dalam makanan sehingga menyebabkan para remaja
pada umumnya nafsu makan. Jika makanan yang dimakan cukup mengandung gizi,
kebutuhan zat pembangun bisa terpenuhi sehingga pertumbuhan menjadi lancar.
Sebaliknya, jika kebutuhan zat pembangun tidak terpenuhi, pertumbuhan fisik
akan menjadi terhambat dan kurang lancar.
Implikasinya
bagi pendidikan adalah perlunya memperhatikan faktor-faktor berikut ini:
a.
Sarana
dan Prasarana
Faktor sarana
dan prasarana ini jangan sampai menimbulkan gangguan kesehatan pada anak.
Misalnya, tempat duduk yang kurang
sesuai sertam ruangan yang gelap dan terlalu sempit akan menimbulkan gangguan
kesehatan. Penyelenggaraan pendidikan modern menghendaki agar tempat duduk anak
dan meja dapat diatyr sesuai dengan kebutuhan, ruangan kelas yang bersih,
terang dan cukup luas, serta kedisiplinan uang tidak kaku.
b.
Waktu
Istirahat
Untuk
menghilangkan rasa lelah dan dan mengumpulkan tnaga baru, istirhat sangat
diperlukan. Terus-menerus bekerja tanpa ada waktu istirahat dapat meimbulkan
kelelahan yang mendatangkan kerugian bagi kesehatan. Oleh karena itu, dalam
belajar pun sangat penting memperhatikan pengaturan waktu istirahat bagi
anak-anak karena dalam belajar di kenal adanya istilah yang di sebut dengan
biorama, yang berarti kemampuan anak berkonsentrasi akan sangat dipengaruhi oleh
irama stamina biologis pada anak itu sendiri. Berkaitan dengan biorama ini, ada
rumus pengaturan belajar yang dikenal dengan “lima kali dua lebih baik daripada
dua kali lima”. Artinya, belajar sebanyak lima kali yang masing-masing
berlangsung selama dua jam, hasilnya akan lebih baik daripada belajar sebanyak
dua kali yang masing-masing berlangsung selama lima jam. Ini berkaitan dengan
kemampuan stamina tubuh untuk berkonsenterasi dalam belajar guna menyerap isi
yang terkandung dalam materi pelajaran.
c.
Diadakannya
Jam-Jam Olahraga bagi Para Siswa
Pelajaran olahraga
sangat penting bagi pertumbuhan fisik anak karena dengan olahraga yang
dijadwalkan secara teratur olah sekolah berarti pertumbuhan fisik anak akan
memperoleh stimulasi secara teratur pula.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Karakteristik yang
menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat
perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berfikir operasional formal,
yaitu mulai berfikir abstrak dan mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat
hipotetis, maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalahan tidak lagi hanya
terkait pada waktu tempat dan situasi. Para ahli umumnya sependapat
bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan itu dapat di bagi
dalam dua tahapan (remaja awal dan remaja akhir) yang secara kualitatif
menunjukkan karakteristik yang berbeda. Ciri-ciri kesadaran beragama yang
menonjol pada masa remaja adalah pengalaman ke-Tuhanannya makin bersifat
individual, keimanannya semakin menuju realitas sebenarnya, dan peribadahan
mulai disertai penghayatan yang tulus. Ada dua faktor yang mempengaruhi
kesadaran beragama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Sikap yang
ditujukan remaja dalam beragama antara lain adalah percaya ikut-ikutan, percaya
dengan kesadaran, percaya tetapi agak ragu, dan tidak percaya atau cenderung
ateis.
Emosi adalah suatu respon
terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai
perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Bentuk
emosi remaja antara lain adalah emosi marah, takut, dan cinta. Faktor yang
mempengaruhi perkembangan emosi remaja antara lain adalah perubahan jasmani,
perubahan pola interaksi dengan orang tua, perubahan interaksi dengan teman
sebaya, perubahan pandangan luar, dan perubahan interaksi dengan sekolah.
Gejala yang biasanya mengganggu emosi remaja adalah depresi, mudah pingsan dan
tersinggung, cemas, dan ragu-ragu. Ciri-ciri kematangan emosi remaja antara
lain adalah mandiri, mampu dalam mengendalikan emosi, dan menerima diri sendiri.
Cara meredam emosi negatif remaja antara lain adalah berpikir positif, memahami
orang lain, menghargai orang lain, instropeksi diri, dan sabar.
Dari
banyaknya uraian tentang interaksi, maka dapat disimpulkan bahwa interaksi
mengandung pengertian hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, dan
masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif.
interaksi antara remaja dengan orang tua dapat digambarkan sebagai drama tiga
tindakan (three-act-drama).
Karakteristik perkembangan sosial remaja itu sendiri antara lain adalah
berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan, adanya
upaya memilih nilai sosial, meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis, dan
cenderung memilih karier tertentu. Faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial
remaja adalah faktor internal dan eksternal. Bentuk perilaku sosial remaja
antara lain adalah ketertarikan terhadap lawan jenis, kemandirian bertingkah
laku, dan kesenangan berkelompok.
Remaja ada dalam tahapan
perkembangan kognitif terakhir yaitu tahap operasional formal yang dimana
berada pada usia 11 tahun ke atas. Pada masa ini, remaja
telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan
hasil dari pikiran logis. Faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif remaja
antara lain adalah hereditas, lingkungan, dan ekonomi.
Perkembangan
bahasa remaja telah mencapai tahap kompetensi lengkap. Pada usia ini individu
diharapkan telah mempelajari semua sarana bahasa dan keterampilan-keterampilan
performasi untuk memahami dan menghasilkan bahasa tertentu dengan baik. Dalam
perkembangan masyarakat moderen sekarang ini, di kota-kota besar bahkan
berkembang pesat bahasa khas remaja yang sering dikenal dengan bahasa gaul.
Faktor yang mempengaruhi bahsa remaja antara lain adalah kognisi, pola
komunikasi, anggota keluarganya, posisi urutan kelahiran, dan kedibahasaannya.
Perkembangan
psikomotorik adalah perkembangan pengendalian jasmaniah melalui kegiatan pusat
saraf, urat saraf, dan otot yang berkoordinasi. Perkembangan fisik remaja dapat
dilihat dari perkembangan anatomis dan fisiologisnya. Faktor yang mempengaruhi
psikomotorik remaja adalah faktor internal dan eksternal.
B. Saran
Pada masa remaja, hendaknya orang tua, pihak sekolah
dan lingkungan sekitar lebih memperhatikan proses perkembangan remaja sehingga
mengurangi kenakalan remaja dimasa yang akan datang.
Langganan:
Komentar (Atom)